Tari Lajur Caping Kalo Mendunia

September 28, 2026


Tari Lajur Caping Kalo mendunia. Sabtu 26 September 2026, Pemerintah Kabupaten Kudus kembali menorehkan prestasi di bidang seni budaya, tepatnya pada seni tari. Mendengar kata seni tari, Kudus tidak kalah menariknya dengan kota-kota lain yang memiliki ikon tari yang begitu menarik perhatian dengan ciri khasnya masing-masing. Kabupaten Kudus lebih dulu memiliki Tari Kretek dengan gerakan proses pembuatan rokok kretek yang tahun lalu juga meraih penghargaan Rekor MURI dengan penampilan 1405 penari.

Di 2026 ini, Kudus kembali menggemparkan Dunia dengan diraihnya penghargaan Rekor MURI atas pagelaran Tari Lajur Caping Kalo yang diperagakan oleh 670 penari di halaman Pendopo Kabupaten Kudus. Tari Lajur Caping Kalo merupakan representasi dari proses pembuatan Caping Kalo yang diperagakan dalam sebuah tarian. Klik di sini untuk mengetahui sejarah Tari Lajur Caping Kalo.

Melihat informasi tersebut dari flyer yang berseliweran di sosial media, saya pun tertarik untuk menghadiri pagelaran tari tersebut. Informasi yang tertera pada flyer, menunjukkan acara akan dimulai pada pukul 07.00 WIB. Sedikit menggerutu sebenarnya, sepagi itukah acaranya?

Saya berusaha berfikir positif bahwa acaranya benar pukul 07.00 WIB. Agar tidak seperti orang hilang di acara tersebut, sayapun menginformasikan ke grup whatsapp untuk menarik perhatian teman-teman di grup. Dan akhirnya, ada Akak Yanu (Panggilan akrabnya) yang merupakan konten kreator dan juga Pak Jeff seorang fotografer profesional di Kudus. Yeay.... akhirnya ada teman untuk ke lokasi acara.

Pagi itu genteng kaca di atas kamar saya terlihat sedikit terang, sayapun bergegas untuk bersiap-siap menghadiri pagelaran Pemecahan Rekor MURI Tari Lajur Caping Kalo. Pukul 06.30 WIB saya berangkat dengan kendaraan motor yang menjadi andalan transportasi disetiap perjalanan. 

Sesampinya ditempat parkir yang berada dikawasan Taman Bojana Kudus. Terlihat sudah banyak kendaraan berjajar rapih yag didominasi warna hitam. "Wah bakalan rame banget nih, pikirku dalam hati."

Juru parkir mengarahkan saya untuk berhenti di salah satu titik dan menyuruh saya meninggalkan motor di lokasi tersebut. Selanjutnya akan dirapihkan oleh Juru Parkir. Sayapun bergegas meninggalkan lokasi parkir sembari menelepon Akak Yanu yang hadir lebih awal untuk menanyakan posisi ia berada. Sesampainya di halaman Pendopo, para penari sudah berada posisi yang telah ditentukan, tinggal menunggu arahan pewara untuk menarikan Tari Lajur Caping Kalo. 

Saya berjalan pelan menuju bagian depan area Pendopo Kabupaten Kudus untuk menemui Akak Yanu dan Pak Jeff. Akhirnya bertemulah dengan mereka, eh ternyata ada si Raka sang petualang, seorang Wedding Conten Creator yang tampil kece dengan celana sweatpantsnya yang khas. Kali ini Raka tidak ngonten, melainkan sebagai fotografer privat untuk salah satu tim tari yang juga menjadi peserta. 

By the way, Saya fikir telat hadir, karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih. Eh do do eeee...... Lha kok durung mulai acarane (Dialeg Kudus)..... 

Alhamdulillah juga sih acara belum dimulai, jadi kami berempat bisa berswafoto bersama dan saling berkoordinasi untuk pengambilan konten di area lokasi acara. Sekitar pukul 07.45 WIB, acara dimulai oleh pewara yang cukup kondang dengan pantun-pantun uniknya. Acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang begitu menyentuh hati. Semua peserta dan masyarakat yang hadir pun merasakan hikmatnya serta turut menyanyikan lagu Kebangsaan tersebut.


Lagi, lagi dan lagi, pewara merayu tamu undangan dengan pantun-pantun yang membuat semua orang yang berada di halaman Pendopo kabupaten Kudus pun turut tertawa sembari bertepuk tangan. Acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Bupati Kudus, Bapak Sam'ani Intakoris dan dilanjutkan dengan sambutan Bapak Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia (Wamenbud) Giring Ganeha.

Dalam sambutannya, Wamenbud mengajak anak muda Kudus untuk turut membagikan momen pagelaran Tari Lajur Caping Kalo ini ke berbagai platform media sosial, agar warisan budaya Caping kalo semakin dikenal luas dan terus mendunia. Beliau pun menambahkan "kalau dulu diwariskan dari panggung ke panggung, kali ini kita bagikan lewat media sosial"

Acara dilanjutkan dengan penyematan Caping Kalo kepada 4 penari sebagai simbolis diselenggarakannya pagelaran Tari Lajur Caping Kalo untuk meraih penghargaan Rekor MURI. Selesai penyematan, lanjut ke acara inti, yakni pagelaran Tari Lajur Caping Kalo oleh 670 penari dari berbagai sanggar tari dan instansi yang ada di Kabupaten Kudus.

Alunan musik Tari lajur Caping Kalo mulai terdengar dan penari memposisikan diri, saya menyebutnya posisi siap. Lenggak lenggok penari begitu membuat suasana halaman Pendopo kabupaten Kudus meriah dengan 670 penari berbalut pakaian khas Tari Lajur Caping Kalo. Melihat pagelaran ini, saya merinding, merasakan suasana Tarian Lajur Caping Kalo yang begitu mempesona setiap pengunjung yang hadir. 

Dari satu tempat ke tempat yang lain, saya mengambil video dengan angle yang berbeda untuk mendapatkan hasil video konten yang maksimal. Akak Yanu, Pak Jeff dan Raka pun melakukan hal yang sama. Mereka menjelajah titik lokasi yang tepat untuk mendapatkan hasil bidikan sesuai yang diinginkan.

Gerakan penari yang saling berkaitan serentak membuat pengunjung tertarik untuk mendokumentasikan pagelaran tari ini. Ada yang memilih membuat video dengan posisi vertikal (potrait) maupun horizontal (landscape) dan juga mendokumentasikannya melalui foto menggunakan gawai yang digenggamnya. 

Semua pengunjung terlihat senang menikmati pagelaran Tari Lajur Caping kalo dengan ekspresi yang  berbeda-beda. Pagelaran seni dan budaya memang menarik untuk dipertunjukkan. Hal ini yang mendjadikan pagelaran Seni dan Budaya tetap ramai pengunjung dari masa ke masa. Seni dan Budaya memiliki ruh dan jiwa yang begitu melekat disetiap pengunjung yang hadir. Saya sendiri meyakini bahwa keunikan Seni dan Budaya tak akan pernah punah meski digempur dengan pertunjukan lain yang lebih modern. 

Jujurly, saya kagum dengan teman-teman dari berbagai kalangan yang terus mewariskan seni dan budaya di daerah masing-masing. Apresiasi setinggi-tingginya untuk teman-teman seniman dan budayawan yang  ada dimanapun berada. 

Musik tari telah berhenti, menandakan pagelaran Tari Lajur Caping Kalo telah selesai. Acara dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada Kabupaten Kudus yang diwakili oleh Bupati Kudus, Bapak Sam'ani Intakoris. PT Nojorono International Tobacco, oleh Bapak Daniel Halim dan juga Yayasan Karya Bakti Nojorono yang diwakili oleh Bapak Ronal Adi Wijaya. Penghargaan Rekor MURI diserahkan oleh Ibu Ari Andriyani selaku Kepala Perwakilan MURI Semarang. Semua media dan konten kreator bergegas menuju area Pendopo Kabupaten Kudus untuk mendokumentasikan pemberian penghargaan tersebut.

Acara ditutup dengan Flashmob yang dipimpin oleh Ibu Endhah Endhayani Sam'ani Intakoris selaku ketua TP PKK Kabupaten Kudus. Semua peserta dan tamu undangan sangat antusias turut serta menari flashmob bersama.

Akhirnyaa... acara selesai. Saya, Akak Yanu dan Pak Jeff bergegas mencari sarapan terdekat dan memilih kuliner Khas Kudus, Soto Kudus. 

Nantikan hasil video konten saya di instagram @backpackerbaper dan tik tok Jarang dolan dolan

You Might Also Like

0 komentar